×
×

Menyoal Kiprah Muslimah


Menyoal Kiprah MuslimahMENYOAL KIPRAH MUSLIMAH

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Menjadi ibu rumah tangga atau bergelutnya wanita dalam lingkup domestik merupakan kemunduran adalah sekelumit citra yang kuat tertanam sebagai buah dari propaganda emansipasi. Dengan ini, para wanita pun terpacu untuk mengejar karir meski hanya untuk meraih simbol status. Padahal tanpa disadari, banyak hal yang mereka pertaruhkan di sini.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini sangat tepat untuk menggambarkan keadaan kaum wanita di era kiwari. Ini terkait perjuangan emansipasi yang menghendaki kebebasan kaum wanita manggung di ruang publik. Betapa tidak. Kala gerakan emansipasi ini menggerus feodalisme yang mengungkung kaum wanita, dan menyuarakan kebebasan untuk berkarir, pada saat itu kaum wanita terpelanting pada arus budaya kapitalisme. Wanita menjadi komoditas, barang dagangan utama. Wanita dieksploitasi para pemilik modal (kapitalis). [1] Suara kebebasan yag didengungkan hanya mengantarkan kaum wanita menjadi mesin-mesin ekonomi. Harkat, martabat, dan kemuliaan yang dicitakan cuma sebatas angan. Malang nian nasib kaum wanita. Lepas dari mulut buaya, masuk mulut harimau. Emansipasi tak mampu mengangkatnya dari titik nadir keterpurukan.

Masih berkutat di ruang publik. Angin kebebasan bagi kaum wanita berembus pula ke kubangan politik. Wanita berpacu memperebutkan kursi. Entah kursi eksekutif atau legislatif. Kaum wanita pun sudah tak sungkan dan malu lagi untuk turun ke jalan. Mereka demonstrasi mengikuti arus kebebasan. Walau untuk itu, mereka harus menggendong anaknya, berbaur dengan lawan jenis, mendedahkan aurat berteriak di jalanan dan keluar rumah dengan keperluan yang tak dilandasi syar’i.

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah pernah ditanya terkait aktivitas kaum Hawa di luar rumah. Beliau Rahimahullah menuturkan bahwa pokok masalah (hukum asal) pembicaraan tentang wanita ini berdasar firman Allah k terkait individu para istri Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33)

Lantas beliau Rahimahullah mengutip pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah: “Sesungguhnya, hukum asal bagi laki-laki (adalah) pergi dan keluar (dari rumah). Sedangkan bagi wanita (adalah) tetap tinggal di rumah, tidak keluar, kecuali jika ada keperluan yang mengharuskan dia keluar rumah.”

Lebih lanjut, beliau Rahimahullah menuturkan bahwa dalam Shahih Al-Bukhari, tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan hijab kepada kaum wanita, Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ أَذِنَ اللهُ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَوَائِجِكُنَّ

“Allah telah mengizinkan bagi kalian (para wanita) untuk keluar (rumah) tatkala kalian memiliki keperluan.” [2]

Maka, bila seorang wanita keluar dari rumahnya dengan memakai jilbabnya, tidak memakai parfum (wewangian), lantaran ada keperluan, maka yang demikian diperbolehkan. Apabila dia keluar rumah diiringi pelanggaran terhadap hal-hal yang kami isyaratkan tadi (seperti tidak menutup aurat atau mengenakan wewangian, pen.) atau mengganggu sebagian kewajiban di rumahnya, maka berlakulah ayat Al-Qur`an:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumah-rumahmu.”

Tidak boleh bagi seorang wanita keluar (rumah) dan meninggalkan anak-anaknya bersama pembantu. Karena, seorang ibu lebih mengetahui apa saja kebutuhan yang diminta anak-anaknya. Dia pun mengetahui kebaikan apa saja bagi anak-anaknya berkenaan dengan arahan dan pendidikan. (Masa`il Nisa`iyyah Mukhtarah min Fiqhi Al-’Allamah Al-Albani Rahimahullah, Ummu Ayyub Nurah bintu Ahsan Ghawi, hal. 79)

Demikian Islam membimbing kaum wanita. Namun bagi kalangan pegiat emansipasi, bimbingan semacam ini dianggap sebagai tindak mengekang kebebasan wanita. Mereka, dengan gelap mata, menuduh bahwa kaum wanita cuma diposisikan untuk urusan domestik: kasur, pupur, dapur. Atau istilah lain: macak, masak, manak [3]. Dengan segala latar belakang sejarah dan pemikiran gerakan emansipasi yang bertolak belakang dengan Islam, maka bagi kalangan pegiat emansipasi melihat Islam dari sudut negatif. Karena benak mereka telah dirasuki sejarah dan pemikiran emansipasi tersebut, mereka mendekati Islam dengan dasar curiga. Sehingga, mereka melihat apa yang telah diatur dalam Islam sebagai bentuk penistaan terhadap kaum wanita. Mereka melihat kemajuan dan kemuliaan wanita adalah manakala telah mampu melampaui atau sama dengan yang dicapai kaum pria. Kemajuan dan kemuliaan wanita identik dengan jabatan, gelar, atau status sosial yang dicapai. Hal-hal yang bersifat keakhiratan, keshalihan, ketaatan dan keimanan dianggap sebagai angin lalu.

Dengan corak pemikiran semacam itu, yang tidak bertumpu pada nilai-nilai Islam yang benar, maka keberadaan kaum wanita yang memainkan peran domestiknya dianggap sebagai kemunduran. Tak terbetik dalam diri mereka nilai keutamaan seorang wanita yang sabar dalam menghadapi kesulitan mengurusi rumah tangga. Tak terbetik pula dalam diri mereka, keutamaan seseorang yang tetap mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dzikir kala sulit melilit rumah tangganya.

Dikisahkan dari hadits Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Fathimah Radhiyallahu ‘anha mengeluhkan tangannya akibat penggilingan (yang digerakkan tangannya). Sedangkan pada saat itu terbetik berita bahwa didatangkan tawanan perang (budak) kepada Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam. Maka, bertolaklah Fathimah untuk menemui Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam (dengan maksud bisa meminta budak untuk dijadikan pembantu di rumahnya). Namun, ternyata dia tak bertemu Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam. Dia bertemu Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Diungkapkanlah apa yang menjadi keinginan hatinya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Maka, ketika Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam tiba, Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang hal itu kepada beliau. Kemudian Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam mendatangi mereka berdua. Saat ditemui, mereka berdua tengah berbaring di tempat tidur. “Tetaplah kalian di tempat,” kata Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam. Lantas beliau duduk di antara keduanya (Ali dan Fathimah Radhiyallahu ‘anhuma). Kata Ali, “Hingga aku rasakan dinginnya kedua kaki beliau di perutku.” Lalu Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا أَنْ تُكَبِّرَا اللهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِيْنَ وَتُسَبِّحَاهُ ثَلَاثَةً وَثَلَاثِيْنَ وَتَحْمَدَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

“Maukah aku ajari kalian berdua tentang sesuatu yang lebih baik dari (pembantu) yang kalian berdua minta? Apabila kalian berdua telah mendapati tempat pembaringan (menjelang tidur), hendaknya bertakbir (mengagungkan-Nya) 34 kali, bertasbih (menyucikan-Nya) 33 kali, dan bertahmid (memuji-Nya) 33 kali. Maka, itu (semua) lebih baik daripada seorang pembantu.” (HR. Al-Bukhari, Bab ‘Amalil Mar`ah fi Baiti Zaujiha, no. 5361, dan Bab Khadimul Mar`ah, no. 5362; Muslim, Bab At-Tasbih Awwalan Nahar wa ‘indan Naum, no. 2727)

Berkenaan hadits di atas, Al-Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani Rahimahullah menjelaskan, bahwa dengan membiasakan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya akan diberikan kekuatan yang lebih besar dibanding kekuatan yang mampu dikerjakan oleh seorang pembantu. Atau (dengan membiasakan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) akan mempermudah urusan. Sekiranya terjadi seseorang diberi beragam urusan, dengan (dzikir) itu akan lebih memudahkan dibanding diberi seorang pembantu kepadanya. Yang jelas, kandungan hadits di atas memiliki maksud betapa manfaat tasbih (menyucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala) dikhususkan terhadap kampung akhirat, sedangkan manfaat adanya pembantu khusus menggapai (apa yang ada) di dunia saja. Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal adanya. (Fathul Bari, Bab ‘Amalil Mar`ah fi Baiti Zaujiha, penjelasan hadits no. 5361, 9/484)

Begitulah solusi yang dibangun melalui pendekatan keimanan dan keshalihan.

Kisah Fathimah Radhiyallahu ‘anha semoga bisa memberi secercah cahaya bagi mata hati nan gulita. Sepenggal kisah tersebut semoga pula bisa meneduhkan kalbu yang galau menatap kilau dunia. Beragam kesulitan yang silih berganti tiada henti, yang menerpa para wanita di kala mengurusi rumah tangganya, ternyata memendam untaian pahala tiada ternilai. Ketika tugas-tugas domestik itu bisa ditunaikan dengan penuh kesabaran, ikhlas semata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka urusan-urusan rumah yang digelutinya menjadi ladang kebaikan. Ia akan senantiasa mereguk pahala kebaikan yang tercurah padanya. Maka, keutamaan mana lagi yang harus dia kejar?

Tentu, bagi kalangan feminis –aktivis perempuan yang getol menyuarakan kebebasan– hal-hal keshalihan, ketaatan, keimanan, dan kesabaran dalam menggarap ladang kebaikan di rumah tak akan menggiurkannya. Jangankan tergiur, untuk menoleh sesaat saja dada terasa menyempit. Sesak terasa. Rumah baginya adalah penjara yang membelenggu kebebasannya untuk berkiprah di luar rumah. Ingatlah, bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la: 17)

“Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu dari permulaan (dunia).” (Adh-Dhuha: 4)

Menurut Ibnu Katsir Rahimahullah, maksud ayat ini, bahwa kehidupan akhirat lebih baik bagimu dari (kehidupan) di dunia ini. (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 7/395)

Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam memberikan perumpamaan tentang kehidupan dunia. Berdasar hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Tatkala beliau Shallallahu `alaihi wa sallam bangun, nampak bekas tikar di bagian rusuknya. Lantas kami katakan kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, (bagaimana) seandainya (tempat tidurmu) kami lapisi lembaran yang lebih baik?’ Maka beliau Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa urusanku dengan dunia?! Tiadalah aku dalam (menyikapi dunia) kecuali seperti seorang pengelana yang berteduh di bawah pohon, kemudian beristirahat dan meninggalkan pohon tersebut.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2377. Hadits ini dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah)

Bila dicermati, semakin laju zaman, keengganan –bahkan penolakan– terhadap peran domestik ini makin menguat. Berpokok pada kejahilan umat terhadap Islam, diperparah dengan gempuran budaya materialistik kapitalistik sehingga membentuk cara berpikir yang pragmatis, simpel, praktis, dengan meninggalkan idealisme beragama. Bahkan kondisi demikian menggejala nyaris di semua lini kehidupan.

Tak terkecuali dengan nilai-nilai Islam. Beberapa kalangan dari kaum muslimin, khususnya mereka yang fokus terhadap emansipasi wanita, mulai bersuara sumbang. Mereka katakan, tafsir terkait masalah wanita dihasilkan dari dominasi penafsir laki-laki sehingga cenderung membela laki-laki. Terlontar pula dari mereka bahwa tafsir terkait masalah wanita dihasilkan pada abad-abad pertengahan yang merupakan abad kemunduran. Ungkapan-ungkapan yang mereka lansir adalah upaya untuk mengecoh umat dari nilai-nilai Islam. Sengaja mereka tebarkan ungkapan sejenis itu guna menjatuhkan kredibilitas para ulama. Jika umat sudah tidak lagi memercayai ulamanya, kepada siapa lagi mereka menyandarkan diri dalam masalah agama? Dari sinilah kita memahami bahwa ada rencana besar di balik ini semua, yaitu menghancurkan kaum muslimin. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari semua ini.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk taqlid buta. Namun, Islam pun mengajarkan kepada umatnya untuk menghormati para ulama. Tidak melecehkan mereka, apalagi menghilangkan kepercayaan terhadapnya. Para ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Al-Imam Al-Ajurri Rahimahullah dalam Akhlaqul ‘Ulama` (hal. 47), menjelaskan tentang sifat-sifat para ulama atau seorang yang alim. Beberapa pernyataan salafush shalih yang beliau nukil, seperti apa yang dinyatakan Al-Imam Al-Auza’i Rahimahullah yang berkata: “Aku telah mendengar Yahya bin Abi Katsir menyatakan, seorang alim adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan (yang) takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah orang yang wara’ (yang menjauhi maksiat dan syubuhat).”

Kata Masruq Rahimahullah, “Cukuplah seorang termasuk berilmu, manakala dia takut kepada Allah k. Dan cukuplah seseorang termasuk dalam kebodohan (jahil) manakala dia merasa ujub (bangga) dengan ilmunya.”

Atas dasar sikap takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akhlak terpuji lainnya, para ulama menyampaikan bimbingannya. Apa yang disampaikan para ulama benar-benar didasari rasa tanggung jawab yang besar. Tak cuma di hadapan umat, lebih dari itu semuanya bakal dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karenanya, sungguh tidak memiliki dasar ilmiah sama sekali, mereka yang melansir ucapan bahwa tafsir masalah wanita cenderung membela laki-laki, atau yang semakna dengan itu. Selain itu, dalam khazanah Islam telah terbentuk tradisi metodologi keilmuan yang ketat. Ini bisa dikaji secara ilmiah. Sehingga apa yang disampaikan para ulama bukan sesuatu yang asal ucap tanpa dasar pijakan yang kokoh.

Kebenaran itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti firman-Nya:

“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147)

Jalan untuk menggapai kebenaran itu pun hanya satu. Tidak ada jalan selain jalan yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu `alaihi wa sallam. Karenanya, segenap manusia diseru untuk menempuh jalan yang satu tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153)

Ibnu Katsir Rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata: “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam menggaris satu guratan garis dengan tangannya, kemudian bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lantas mengguratkan di sebelah kanan dan kiri garis tadi, kemudian bersabda, ‘Ini jalan-jalan, tak ada dari salah satu jalan tersebut kecuali setan menyeru kepadanya.’ Kemudian beliau membaca ayat di atas (Al-An’am: 153).”

Menempuh jalan –dalam memahami, meyakini dan mengamalkan agama– dengan jalan yang bukan dituntunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu `alaihi wa sallam, niscaya tertolak.

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang tidak ada padanya, maka dia tertolak.” (HR. Al-Bukhari, no. 2697, Muslim, no. 1718)

Untuk memalingkan muslimah dari jalan Islam, kalangan feminis (baca: para aktivis emansipasi) terus mempropagandakan ide-idenya. Bisa dilihat selembar potret kusam yang menggambarkan rekayasa penghancuran kaum muslimah di Timur Tengah. Meski apa yang terjadi di Indonesia tak kalah dahsyat tentunya. Sebut misal, Markus Fahmi, seorang Qibthi Mesir, penulis buku Wanita di Timur. Dengan lantang tanpa ragu dia menuntut lima hal:

(1) Singkirkan hijab (jilbab syar’i, ed.),

(2) Membolehkan ikhtilath (membaurkan kaum wanita dengan laki-laki),

(3) Nikahkan muslimah dengan laki-laki Kristen,

(4) Menolak poligami,

(5) Talak harus di depan hakim (bukan menjadi hak suami, pen.). (Mu’amaratul Mar`ah Al-Kubra, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, 1/70-71)

Maka, adakah dari kelima hal di atas, yang kini merebak di Indonesia? Bandingkan dengan suara wanita Indonesia –meski tak semuanya– pada acara Kongres Perempuan Pertama di Yogyakarta: “Menoeroet hoekoem agama Islam, orang lelaki itoe boleh mempoenjai isteri lebih dari seorang, ja hingga empat orangpoen boleh djoega. Hal inilah jang menjakitkan hati kita kaoem perempoean, dan djoega merendahkan deradjatnja orang perempoean….” (Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang, Susan Blackburn, 1/98)

Seruan yang nyaris sepadan disuarakan pula oleh Ana Maria Ilyas, feminis asal Suriah, penulis Kepemimpinan atas Wanita Islam. Dia menggagas acara festival yang menjiplak mentah-mentah Festival Paris di Perancis. Festival ini menjadi ajang berbaur bebas antara pria dan wanita. Dari berbagai orang Eropa, Mesir, dan orang-orang Barat yang bermukim di Mesir, khususnya dari kalangan Kristiani, mereka berkumpul. Latar belakang mereka, selain orang-orang Eropa, juga memiliki pikiran sekularis dan Yahudi. Maka, kata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahullah, inilah hakikat seruan kepada (kebebasan) hak-hak wanita. Mungkinkah bisa terjadi seruan terhadap (kebebasan) hak-hak wanita tersebut tanpa menerima kelompok orang-orang berdosa dan menyimpang itu? (Tentunya, tidak mungkin). Bahkan, mereka adalah sumber dan tempat merujuk. Perhatikanlah, bagaimana (lantaran menyuarakan hak-hak wanita) mereka bergelimang pada perkara-perkara kekufuran, dan saling mengasihi serta melindungi! La haula wala quwwata illa billah. (Mu’amarah Al-Kubra, 1/71)

Tersebut juga nama Duriyah Syafiq. Sekembali dari studi di Perancis dengan menggondol gelar doktor, ia mendirikan partai politik. Dengan lantang dia menyuarakan kebebasan kaum wanita untuk dipilih dan masuk parlemen, menghapuskan poligami, serta memasukkan sistem perundangan Eropa dalam masalah talak ke dalam undang-undang Mesir. (Mu’amarah Al-Kubra, 1/72)

Bandingkan dengan fenomena yang terjadi di Indonesia. Perjuangan kaum wanita untuk mendapatkan kuota dalam pemilihan anggota legislatif semakin menganga. Kini, syarat sebuah partai politik berdiri, harus menyertakan keterwakilan perempuan paling rendah 30%.

Mestikah kemajuan materi yang digapai kini hanya akan mengeraskan hati manusia? Sehingga, dengan itu manusia tak mau tunduk patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu `alaihi wa sallam.

Mestikah laju pengetahuan yang demikian canggih, menjadikan manusia angkuh, merasa diri mampu atas segalanya?

Sudah tiba saatnya, kaum muslimah berkaca diri. Menatap tentang keadaan dirinya. Sudahkah bersolek dengan hiasan keimanan, ketaatan, dan keshalihan? Lalu menggubah rumah menjadi madrasah bagi masa depan anak-anaknya.

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ

“Dan seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suami dan anaknya.” (HR. Al-Bukhari, no. 5200, dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma)

Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Asy Syariah

**************

Catatan Kaki

  1. Dijadikan pemikat guna melariskan dan memuluskan usaha. Baik di perkantoran, di dunia periklanan, atau lainnya, nyaris selalu mengedepankan kaum wanita.
  2. Lihat Shahih Al-Bukhari, Kitabun Nikah, Bab Khurujun Nisa` li Hawa`ijihinna, hadits no. 5237. (pen)
  3. Pupur (jw)=bedak, macak (jw)=berdandan, manak (jw)=melahirkan. Maksudnya, wanita dicitrakan tak jauh-jauh dari urusan  ‘ranjang’, dandan, memasak, dan melahirkan anak.

Sumber : Menyoal Kiprah Muslimah

Artikel Lainnya

Tentang Kami

🏠 Muslimstore.id adalah marketplace islami yang menjual berbagaimacam produk perlengkapan kaum muslimin, seperti buku-buku dan majalah islami, bahasa arab, pakaian muslim, jubah dan gamis, kurma, aneka herbal, parfum non alkohol dll.

📍 Semua barang yang dijual di website ini adalah milik masing-masing pedagang dari daerahnya masing-masing jadi buka tanggung jawab pemilik website, akan tetapi para pedagang di website ini insya Allah orang-orang yang amanah.


Semoga anda mendapatkan produk yang anda cari di sini, semoga Allah membarokahi muamalah kita semuanya. Aamiin.., dan apabila ada pertanyaan jangan sungkan untuk menghubungi kami.

Hubungi Kami

Aceh Barat, Aceh Aceh Barat Daya, Aceh Aceh Besar, Aceh Aceh Jaya, Aceh Aceh Selatan, Aceh Aceh Singkil, Aceh Aceh Tamiang, Aceh Aceh Tengah, Aceh Aceh Tenggara, Aceh Aceh Timur, Aceh Aceh Utara, Aceh Bener Meriah, Aceh Bireuen, Aceh Gayo Lues, Aceh Kota Banda Aceh, Aceh Kota Langsa, Aceh Kota Lhokseumawe, Aceh Kota Sabang, Aceh Kota Subulussalam, Aceh Nagan Raya, Aceh Pidie, Aceh Pidie Jaya, Aceh Simeulue, Aceh Badung, Bali Bangli, Bali Buleleng, Bali Gianyar, Bali Jembrana, Bali Karangasem, Bali Klungkung, Bali Kota Denpasar, Bali Tabanan, Bali Kota Cilegon, Banten Kota Serang, Banten Kota Tangerang, Banten Kota Tangerang Selatan, Banten Lebak, Banten Pandeglang, Banten Serang, Banten Tangerang, Banten Bengkulu Selatan, Bengkulu Bengkulu Tengah, Bengkulu Bengkulu Utara, Bengkulu Kaur, Bengkulu Kepahiang, Bengkulu Kota Bengkulu, Bengkulu Lebong, Bengkulu Mukomuko, Bengkulu Rejang Lebong, Bengkulu Seluma, Bengkulu Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Jakarta Barat, Dki Jakarta Jakarta Pusat, Dki Jakarta Jakarta Selatan, Dki Jakarta Jakarta Timur, Dki Jakarta Jakarta Utara, Dki Jakarta Kepulauan Seribu, Dki Jakarta Boalemo, Gorontalo Bone Bolango, Gorontalo Gorontalo, Gorontalo Gorontalo Utara, Gorontalo Kota Gorontalo, Gorontalo Pahuwato, Gorontalo Batanghari, Jambi Bungo, Jambi Kerinci, Jambi Kota Jambi, Jambi Kota Sungai Penuh, Jambi Merangin, Jambi Muaro Jambi, Jambi Sarolangun, Jambi Tanjung Jabung Barat, Jambi Tanjung Jabung Timur, Jambi Tebo, Jambi Bandung, Jawa Barat Bandung Barat, Jawa Barat Bekasi, Jawa Barat Bogor, Jawa Barat Ciamis, Jawa Barat Cianjur, Jawa Barat Cirebon, Jawa Barat Garut, Jawa Barat Indramayu, Jawa Barat Karawang, Jawa Barat Kota Bandung, Jawa Barat Kota Banjar, Jawa Barat Kota Bekasi, Jawa Barat Kota Bogor, Jawa Barat Kota Cimahi, Jawa Barat Kota Cirebon, Jawa Barat Kota Depok, Jawa Barat Kota Sukabumi, Jawa Barat Kota Tasikmalaya, Jawa Barat Kuningan, Jawa Barat Majalengka, Jawa Barat Purwakarta, Jawa Barat Subang, Jawa Barat Sukabumi, Jawa Barat Sumedang, Jawa Barat Tasikmalaya, Jawa Barat Banjarnegara, Jawa Tengah Banyumas, Jawa Tengah Batang, Jawa Tengah Blora, Jawa Tengah Boyolali, Jawa Tengah Brebes, Jawa Tengah Cilacap, Jawa Tengah Demak, Jawa Tengah Grobogan, Jawa Tengah Jepara, Jawa Tengah Karanganyar, Jawa Tengah Kebumen, Jawa Tengah Kendal, Jawa Tengah Klaten, Jawa Tengah Kota Magelang, Jawa Tengah Kota Pekalongan, Jawa Tengah Kota Salatiga, Jawa Tengah Kota Semarang, Jawa Tengah Kota Surakarta, Jawa Tengah Kota Tegal, Jawa Tengah Kudus, Jawa Tengah Magelang, Jawa Tengah Pati, Jawa Tengah Pekalongan, Jawa Tengah Pemalang, Jawa Tengah Purbalingga, Jawa Tengah Purworejo, Jawa Tengah Rembang, Jawa Tengah Semarang, Jawa Tengah Sragen, Jawa Tengah Sukoharjo, Jawa Tengah Tegal, Jawa Tengah Temanggung, Jawa Tengah Wonogiri, Jawa Tengah Wonosobo, Jawa Tengah Bangkalan, Jawa Timur Banyuwangi, Jawa Timur Blitar, Jawa Timur Bojonegoro, Jawa Timur Bondowoso, Jawa Timur Gresik, Jawa Timur Jember, Jawa Timur Jombang, Jawa Timur Kediri, Jawa Timur Kota Batu, Jawa Timur Kota Blitar, Jawa Timur Kota Kediri, Jawa Timur Kota Madiun, Jawa Timur Kota Malang, Jawa Timur Kota Mojokerto, Jawa Timur Kota Pasuruan, Jawa Timur Kota Probolinggo, Jawa Timur Kota Surabaya, Jawa Timur Lamongan, Jawa Timur Lumajang, Jawa Timur Madiun, Jawa Timur Magetan, Jawa Timur Malang, Jawa Timur Mojokerto, Jawa Timur Nganjuk, Jawa Timur Ngawi, Jawa Timur Pacitan, Jawa Timur Pamekasan, Jawa Timur Pasuruan, Jawa Timur Ponorogo, Jawa Timur Probolinggo, Jawa Timur Sampang, Jawa Timur Sidoarjo, Jawa Timur Situbondo, Jawa Timur Sumenep, Jawa Timur Trenggalek, Jawa Timur Tuban, Jawa Timur Tulungagung, Jawa Timur Bengkayang, Kalimantan Barat Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Kayong Utara, Kalimantan Barat Ketapang, Kalimantan Barat Kota Pontianak, Kalimantan Barat Kota Singkawang, Kalimantan Barat Kubu Raya, Kalimantan Barat Landak, Kalimantan Barat Melawi, Kalimantan Barat Pontianak, Kalimantan Barat Sambas, Kalimantan Barat Sanggau, Kalimantan Barat Sekadau, Kalimantan Barat Sintang, Kalimantan Barat Balangan, Kalimantan Selatan Banjar, Kalimantan Selatan Barito Kuala, Kalimantan Selatan Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan Kotabaru, Kalimantan Selatan Tabalong, Kalimantan Selatan Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan Tanah Laut, Kalimantan Selatan Tapin, Kalimantan Selatan Barito Selatan, Kalimantan Tengah Barito Timur, Kalimantan Tengah Barito Utara, Kalimantan Tengah Gunung Mas, Kalimantan Tengah Kapuas, Kalimantan Tengah Katingan, Kalimantan Tengah Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah Lamandau, Kalimantan Tengah Murung Raya, Kalimantan Tengah Pulang Pisau, Kalimantan Tengah Seruyan, Kalimantan Tengah Sukamara, Kalimantan Tengah Berau, Kalimantan Timur Bulungan, Kalimantan Timur Kota Balikpapan, Kalimantan Timur Kota Bontang, Kalimantan Timur Kota Samarinda, Kalimantan Timur Kota Tarakan, Kalimantan Timur Kutai Barat, Kalimantan Timur Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur Kutai Timur, Kalimantan Timur Malinau, Kalimantan Timur Nunukan, Kalimantan Timur Paser, Kalimantan Timur Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur Tana Tidung, Kalimantan Timur Bangka, Kepulauan Bangka Belitung Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung Belitung, Kepulauan Bangka Belitung Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung Bintan, Kepulauan Riau Karimun, Kepulauan Riau Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau Kota Batam, Kepulauan Riau Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau Lingga, Kepulauan Riau Natuna, Kepulauan Riau Kota Bandar Lampung, Lampung Kota Metro, Lampung Lampung Barat, Lampung Lampung Selatan, Lampung Lampung Tengah, Lampung Lampung Timur, Lampung Lampung Utara, Lampung Mesuji, Lampung Pesawaran, Lampung Pringsewu, Lampung Tanggamus, Lampung Tulang Bawang, Lampung Tulang Bawang Barat, Lampung Way Kanan, Lampung Buru, Maluku Buru Selatan, Maluku Kepulauan Aru, Maluku Kota Ambon, Maluku Kota Tual, Maluku Maluku Barat Daya, Maluku Maluku Tengah, Maluku Maluku Tenggara, Maluku Maluku Tenggara Barat, Maluku Seram Bagian Barat, Maluku Seram Bagian Timur, Maluku Halmahera Barat, Maluku Utara Halmahera Selatan, Maluku Utara Halmahera Tengah, Maluku Utara Halmahera Timur, Maluku Utara Halmahera Utara, Maluku Utara Kepulauan Sula, Maluku Utara Kota Ternate, Maluku Utara Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara Pulau Morotai, Maluku Utara Bima, Nusa Tenggara Barat Dompu, Nusa Tenggara Barat Kota Bima, Nusa Tenggara Barat Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat Sumbawa, Nusa Tenggara Barat Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat Alor, Nusa Tenggara Timur Belu, Nusa Tenggara Timur Ende, Nusa Tenggara Timur Flores Timur, Nusa Tenggara Timur Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur Kupang, Nusa Tenggara Timur Lembata, Nusa Tenggara Timur Manggarai, Nusa Tenggara Timur Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur Nagekeo, Nusa Tenggara Timur Ngada, Nusa Tenggara Timur Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur Sikka, Nusa Tenggara Timur Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur Asmat, Papua Biak Numfor, Papua Boven Digoel, Papua Deiyai, Papua Dogiyai, Papua Intan Jaya, Papua Jayapura, Papua Jayawijaya, Papua Keerom, Papua Kepulauan Yapen, Papua Kota Jayapura, Papua Lanny Jaya, Papua Mamberamo Raya, Papua Mamberamo Tengah, Papua Mappi, Papua Merauke, Papua Mimika, Papua Nabire, Papua Nduga, Papua Paniai, Papua Pegunungan Bintang, Papua Puncak, Papua Puncak Jaya, Papua Sarmi, Papua Supiori, Papua Tolikara, Papua Waropen, Papua Yahukimo, Papua Yalimo, Papua Fakfak, Papua Barat Kaimana, Papua Barat Kota Sorong, Papua Barat Manokwari, Papua Barat Maybrat, Papua Barat Raja Ampat, Papua Barat Sorong, Papua Barat Sorong Selatan, Papua Barat Tambrauw, Papua Barat Teluk Bintuni, Papua Barat Teluk Wondama, Papua Barat Bengkalis, Riau Indragiri Hilir, Riau Indragiri Hulu, Riau Kampar, Riau Kepulauan Meranti, Riau Kota Dumai, Riau Kota Pekanbaru, Riau Kuantan Singingi, Riau Pelalawan, Riau Rokan Hilir, Riau Rokan Hulu, Riau Siak, Riau Majene, Sulawesi Barat Mamasa, Sulawesi Barat Mamuju, Sulawesi Barat Mamuju Utara, Sulawesi Barat Polewali Mandar, Sulawesi Barat Bantaeng, Sulawesi Selatan Barru, Sulawesi Selatan Bone, Sulawesi Selatan Bulukumba, Sulawesi Selatan Enrekang, Sulawesi Selatan Gowa, Sulawesi Selatan Jeneponto, Sulawesi Selatan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan Kota Makassar, Sulawesi Selatan Kota Palopo, Sulawesi Selatan Kota Pare Pare, Sulawesi Selatan Luwu, Sulawesi Selatan Luwu Timur, Sulawesi Selatan Luwu Utara, Sulawesi Selatan Maros, Sulawesi Selatan Pangkajene Dan Kepulauan, Sulawesi Selatan Pinrang, Sulawesi Selatan Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan Sinjai, Sulawesi Selatan Soppeng, Sulawesi Selatan Takalar, Sulawesi Selatan Tana Toraja, Sulawesi Selatan Toraja Utara, Sulawesi Selatan Wajo, Sulawesi Selatan Banggai, Sulawesi Tengah Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah Buol, Sulawesi Tengah Donggala, Sulawesi Tengah Kota Palu, Sulawesi Tengah Morowali, Sulawesi Tengah Parigi Moutong, Sulawesi Tengah Poso, Sulawesi Tengah Sigi, Sulawesi Tengah Tolitoli, Sulawesi Tengah Tojo Una-una, Sulawesi Tengah Bombana, Sulawesi Tenggara Buton, Sulawesi Tenggara Buton Utara, Sulawesi Tenggara Kolaka, Sulawesi Tenggara Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara Konawe, Sulawesi Tenggara Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara Konawe Utara, Sulawesi Tenggara Kota Bau Bau, Sulawesi Tenggara Kota Kendari, Sulawesi Tenggara Muna, Sulawesi Tenggara Wakatobi, Sulawesi Tenggara Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara Kota Bitung, Sulawesi Utara Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara Kota Manado, Sulawesi Utara Kota Tomohon, Sulawesi Utara Minahasa, Sulawesi Utara Minahasa Selatan, Sulawesi Utara Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara Minahasa Utara, Sulawesi Utara Kep. Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara Agam, Sumatera Barat Dharmasraya, Sumatera Barat Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat Kota Padang, Sumatera Barat Kota Padang Panjang, Sumatera Barat Kota Pariaman, Sumatera Barat Kota Payakumbuh, Sumatera Barat Kota Sawahlunto, Sumatera Barat Kota Solok, Sumatera Barat Lima Puluh Kota, Sumatera Barat Padang Pariaman, Sumatera Barat Pasaman, Sumatera Barat Pasaman Barat, Sumatera Barat Pesisir Selatan, Sumatera Barat Sijunjung, Sumatera Barat Solok, Sumatera Barat Solok Selatan, Sumatera Barat Tanah Datar, Sumatera Barat Banyuasin, Sumatera Selatan Empat Lawang, Sumatera Selatan Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan Kota Palembang, Sumatera Selatan Kota Prabumulih, Sumatera Selatan Lahat, Sumatera Selatan Muara Enim, Sumatera Selatan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan Musi Rawas, Sumatera Selatan Ogan Ilir, Sumatera Selatan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan Asahan, Sumatera Utara Batu Bara, Sumatera Utara Dairi, Sumatera Utara Deli Serdang, Sumatera Utara Humbang Hasundutan, Sumatera Utara Karo, Sumatera Utara Kota Binjai, Sumatera Utara Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara Kota Medan, Sumatera Utara Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara Kota Sibolga, Sumatera Utara Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara Labuhanbatu, Sumatera Utara Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara Langkat, Sumatera Utara Mandailing Natal, Sumatera Utara Nias, Sumatera Utara Nias Barat, Sumatera Utara Nias Selatan, Sumatera Utara Nias Utara, Sumatera Utara Padang Lawas, Sumatera Utara Padang Lawas Utara, Sumatera Utara Pakpak Bharat, Sumatera Utara Samosir, Sumatera Utara Serdang Bedagai, Sumatera Utara Simalungun, Sumatera Utara Tapanuli Selatan, Sumatera Utara Tapanuli Tengah, Sumatera Utara Tapanuli Utara, Sumatera Utara Toba Samosir, Sumatera Utara