× Tentang Kami Pengelola Kerjasama
×
Jual Buku Fikih Puasa Lengkap Syarah Kitab Shiyam dari Minhajus Salikin grosir dan eceran
Detail

Buku Fikih Puasa Lengkap Syarah Kitab Shiyam dari Minhajus Salikin

Buku Fiqih Puasa Pdf, Ceramah Fiqih Puasa Ramadhan, Contoh Fiqih Puasa Ramadhan, Contoh Makalah Fiqih Puasa, Contoh Soal Fiqih Puasa, Download Buku Fiqih Puasa Pdf, Fikih Puasa Anak Rumaysho, Fikih Puasa Sesuai Sunnah, Fiqh Manhaji Bab Puasa, Fiqih Bab Puasa Lengkap, Fiqih Bab Puasa Pdf, Fiqih Hutang Puasa Ramadhan, Fiqih Ibadah Puasa Pdf, Fiqih Ibadah Tentang Puasa, Fiqih Niat Puasa Ramadhan, Fiqih Puasa 4 Madzhab, Fiqih Puasa 4 Mazhab, Fiqih Puasa Ahlul Bait, Fiqih Puasa Ayyamul Bidh, Fiqih Puasa Bagi Ibu Hamil, Fiqih Puasa Bagi Wanita, Fiqih Puasa Dalam Islam, Fiqih Puasa Dan Zakat, Fiqih Puasa Ibu Menyusui, Fiqih Puasa Imam Syafi'i, Fiqih Puasa Lengkap Pdf, Fiqih Puasa Piss Ktb, Fiqih Puasa Ramadhan Almanhaj, Fiqih Puasa Ramadhan Pdf, Fiqih Puasa Ramadhan Ppt, Fiqih Puasa Ramadhan Rumaysho, Fiqih Puasa Rumah Fiqih, Fiqih Puasa Sayyid Sabiq, Fiqih Puasa Senin Kamis, Fiqih Puasa Untuk Anak, Fiqih Ringkas Tentang Puasa, Fiqih Tentang Puasa Pdf, Fiqih Tentang Puasa Wajib Dan Sunnah, Fiqih Yang Membatalkan Puasa, Jurnal Fiqih Puasa Pdf, Kitab Fiqih Puasa Pdf, Makalah Fiqih Ibadah Puasa, Makalah Fiqih Puasa Lengkap, Makalah Fiqih Puasa Sunnah, Makalah Fiqih Puasa Wajib, Makalah Fiqih Tentang Puasa, Makalah Fiqih Tentang Puasa Dan Zakat, Makalah Fiqih Tentang Puasa Wajib, Materi Fiqih Tentang Puasa, Ringkasan Fiqih Puasa Ramadhan, Soal Fiqih Bab Puasa,

64 Dilihat

Harga

Rp.75.000,-

Deskripsi

Buku Fikih Puasa Lengkap Syarah Kitab Shiyam dari Minhajus Salikin – Buku ini menjelaskan tuntunan shifat puasa Nabi ‘Alayhi Sholaatu wa Salaam. Sangat layak anda miliki sebagai bekal ibadah puasa anda agar senantiasa terbimbing di atas sunnah.
Pembahasan puasa di ambil dari kitab Minhajus Salikin karya ‘Ulama yang dikenal sangat mapan dalam bidang tafsir juga bidang fikih yaitu Asy Syaikh Al ‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah, guru dari Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Sedangkan Penjelasan (Syarah) ditulis oleh Al Ustadz Muhammad Sarbini hafizhohullah ta’ala.

Adab-adab Berpuasa

Makan Sahur

Orang yang berpuasa sangat dianjurkan untuk makan sahur. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Amru bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحُورِ

“Perbedaan antara puasa kami dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Dari Salman radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْبَرَكَةُ فِي ثَلَاثَةٌ: الْجَمَاعَةُ، وَالثَّرِيدُ، وَالسَّحُورُ

“Berkah ada pada tiga hal: berjamaah, tsarid (roti remas yang direndam dalam kuah), dan makan sahur.” (HR. ath-Thabarani, 6/251, dengan sanad yang hasan dengan penguatnya, lihat Shifat Shaum an-Nabi, hlm. 44)

Disukai untuk mengakhirkan makan sahur, berdasarkan hadits Anas dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau bangkit menuju shalat. Aku (Anas) bertanya, “Berapa jarak antara adzan[1] dan sahur?”

Beliau menjawab, “Kadarnya (seperti orang membaca) 50 ayat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Namun, apa yang diistilahkan oleh kebanyakan kaum muslimin dengan istilah imsak yaitu menahan (tidak makan) beberapa saat sebelum adzan Subuh adalah perbuatan bid’ah, karena dalam ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada imsak (menahan diri) kecuali bila adzan fajar dikumandangkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَذَّنَ بِلَالٌ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

“Apabila Bilal mengumandangkan adzan (pertama), maka (tetap) makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bahkan, bagi orang yang ketika adzan dikumandangkan masih memegang gelas dan semisalnya untuk minum, diberikan rukhshah (keringanan) khusus baginya sehingga dia boleh meminumnya. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

Jika salah seorang kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) ada di tangannya, janganlah dia meletakkannya hingga menuntaskan hajatnya dari bejana (tersebut).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud serta dihasankan oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi al-Wadi’i dalam al-Jami’ ash-Shahih, 2/418—419)

Hukum makan sahur adalah sunnah muakkadah. Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Umat ini telah bersepakat bahwa makan sahur hukumnya sunnah, dan tidak ada dosa bagi yang tidak melakukannya, berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah, karena sesungguhnya pada makan sahur itu ada berkahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dianjurkan makan sahur dengan buah kurma jika ada, boleh pula dengan yang lain, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَ سَحُورِ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

Sebaik-baik sahur seorang mukmin adalah buah kurma.” (HR. Abu Dawud, 2/2345, dan Ibnu Hibban, 8/3475, al-Baihaqi, 4/236, serta disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Jika seseorang ragu apakah fajar telah terbit atau belum, dibolehkan dia makan dan minum hingga dia yakin bahwa fajar telah terbit. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ

“Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar ….” (al-Baqarah: 187)

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Pada (ayat ini) terdapat (dalil) bahwa jika (seseorang) makan dan semisalnya dalam keadaan ragu akan terbitnya fajar maka (yang demikian) tidak mengapa.” (Taisir al-Karim ar-Rahman hlm. 87)

 

Berbuka Puasa

Orang yang berpuasa dianjurkan untuk menyegerakan berbuka jika memang telah masuk waktu berbuka. Tidak boleh menundanya meski ia merasa masih kuat untuk berpuasa. ‘Amr bin Maimun al-Audi rahimahullah meriwayatkan:

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ أَعْجَلُ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأُهُمْ سَحُورًا

“Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bersegera berbukanya dan paling lambat sahurnya.” (HR. al-Baihaqi, 4/238, dan al-Hafizh Ibnu Hajar menilai sanadnya sahih)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Menyegerakan berbuka puasa (dianjurkan) bila telah terbenam matahari, bukan karena adzan. Namun di waktu sekarang (banyak) manusia menyesuaikan adzan dengan jam-jam mereka. Maka bila matahari telah terbenam boleh bagi kalian berbuka walaupun muadzdzin belum mengumandangkan adzan.” (asy-Syarh al-Mumti’)

Berbuka puasa dilakukan dalam keadaan ia mengetahui dengan yakin bahwa matahari telah terbenam. Hal ini bisa dilakukan dengan melihat di lautan dan semisalnya. Adapun hanya sekadar menduga dengan kegelapan dan semisalnya, bukanlah dalil atas terbenamnya matahari. Wallahu a’lam.

Menyegerakan buka puasa adalah mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu meriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُومَ

“Senantiasa umatku berada di atas Sunnahku selama mereka tidak menunggu (munculnya) bintang ketika hendak berbuka.” (HR. al-Hakim, 1/599, Ibnu Hibban, 8/3510, dengan sanad yang sahih. Lihat Shifat Shaum an-Nabi hlm. 63)

Menyegerakan berbuka puasa akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Seperti yang diriwayatkan Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan buka puasa.” (HR. al-Bukhari, 2/1856, dan Muslim, 2/1098)

Menyegerakan berbuka puasa juga merupakan perbuatan menyelisihi Yahudi dan Nasrani. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لِأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ

“Senantiasa agama ini tampak jelas selama manusia menyegerakan buka puasa karena Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya.” (HR. Abu Dawud, 2/2353, Ibnu Majah, 1/1698, an-Nasai dalam al-Kubra, 2/253, dan Ibnu Hibban, 8/3503, dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Selain itu, bersegera dalam berbuka puasa termasuk akhlak kenabian. Sebagaimana dikatakan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

ثَلَاثٌ مِنْ أَخْلَاقِ النُّبُوَّةِ: تَعْجِيلُ الْإِفْطَارِ، وَتَأْخِيرُ السَّحُورِ، وَوَضْعِ الْيَمِينِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلَاةِ

“Tiga hal dari akhlak kenabian: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR. ad-Daruquthni, 1/284, dan al-Baihaqi, 2/29)

Orang harus berbuka puasa lebih dahulu sebelum shalat Maghrib, berdasarkan hadits Anas radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa sebelum shalat (Maghrib). Dan makanan yang paling dianjurkan untuk berbuka puasa adalah kurma. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٍ فَتُمَيْرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٍ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat (Maghrib). Bila tidak ada ruthab maka dengan tamr (kurma kering). Bila tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud, 2/2356, at-Tirmidzi, 3/696, ad-Daruquthni, 2/185, dengan sanad yang sahih, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Jangan lupa, berdoa sebelum berbuka puasa dengan doa:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى

“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat dan telah tetap pahala insya Allah ta’ala.” (HR. Abu Dawud, 2/306 no. 2357, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, 2/255, ad-Daruquthni, 2/185, dan al-Baihaqi, 4/239, dari hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Orang yang menjalankan ibadah puasa diharuskan menjauhkan perkataan dusta sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka tidak ada keinginan Allah pada puasanya.” (HR. al-Bukhari no. 1804)


[1] Yang dimaksud adalah iqamat, karena terkadang iqamah disebut adzan, wallahu a’lam. Yang dimaksud dengan sahur adalah akhir waktu sahur yaitu ketika masuk waktu subuh, sebagaimana akan lebih jelas dalam “Sahur dan Berbuka”.

Detail Penjual

✅ Nama : Abdullah Dimas

🏠 Alamat : Jl. Albiso RT 07 RW 08, Tritih Kulon, Cilacap Utara, Cilacap. KP : 53233

🏭 Usaha : Menjual berbagaimacam perlengkapan kaum muslimin, buku dan majalah islami, pakaian muslim, jubah, herbal, dll

Hubungi Penjual

Pilihan Lainnya

Lihat Semua

Artikel Islami