×
×

Batasan Aurat Wanita


BatasanAuratWanita1

Para Ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini menjadi dua pendapat: Pendapat pertama: Seluruh badan wanita adalah aurot, termasuk di dalamnya wajah dan telapak tangan. Ini adalah pendapat imam Ahmad dan jumhur Ulama Hanabilah, dan dirojihkan oleh para Muhaqqiqun,dan pendapat ini yang dipilih oleh Syekh Al Utsaimin, Syekh Muqbil dan Syekhuna Abdurohman Al ‘Adeny. Diantara dalil-dalil pendapat ini adalah sebagai berikut: Firman Alloh ta’ala:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ

” Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir” [QS. Al Ahzab: 53]

Sebab turunnya ayat ini menunjukan kewajiban bagi wanita untuk menutup seluruh tubuhnya. Lihatlah hadist Anas di dalam Shohihain tentang sebab turunnya firman Alloh:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ……الآية

” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka…” [QS. An Nur: 31]

Sisi pendalilan dari ayat ini: Firman-Nya: ” janganlah menampakkan perhiasannya” termasuk perhiasan wanita adalah wajah, dan wajah merupakan perhiasan yang paling besar dan berharga daripada rambut dan betisnya. Firman Alloh ta’ala:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

” Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” [QS. AL Ahzab: 59]

Jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh wanita. Firman Alloh ta’ala:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ…

” Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan…” [QS. An Nur: 60].

Sisi pendalilan dari ayat ini: Bahwa perempuan-perempuan yang sudah tua, yang mana kaum lelaki sudah tidak tertarik kepadanya maka diberikan ijin untuk menanggalkan jilbab-jilbab mereka yaitu boleh bagi mereka untuk tidak menutup kepala dan wajahnya. Hal ini menunjukan bahwa selain dari mereka tidak diberikan ijin untuk membuka kepala dan wajahnya.

Dalil- dalil dari Sunnah:

Sabda Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam:

المَرْأَةُ عَوْرَةٌ فِإَذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

Artinya: “Wanita adalah aurot, maka apabila dia keluar (dari rumahnya) maka syaithon akan berdiri tegak (untuk mnyesatkannya kedalam fitnah atau menyesatkan laki-laki kedalam fitnah disebabkan wanita teersebut)”. (HR. At Tirmidzy dari shohabat ibnu mas’ud. Dan dishohihkan oleh Syekh Al Albani dan Syekh Muqbil_semoga Alloh merahmati mereka).

Hadits ini bersifat umum “Wanita adalah aurot” yaitu seluruh tubuhnya aurot. Tidaklah dikecualikan dari keumuman ini kecuali dengan dalil, maka tidak ada dalil yang mengecualikannya.

Hadits Ummu ‘Athiyah rodhiyallohu ‘anha,  dia bertanya kepada Rosululloh ketika memerintahkan seluruh wanita untuk keluar ke lapangan shola ied:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: «لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا».

“Wahai Rosululloh, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab, maka beliau menjawab: Hendaknya saudaranya yang memiliki jilbab memakainnya” [HR. Al Bukhory dan Muslim]. Hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha di dalam kisah Ifiq dia berkata:

فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ عَرَفَنِي، فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي

“Maka saya terbangun dan mendengar dia (Shofwan bin Al Mu’atthol) beristirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilahi roji’un) tatkala ia melihatku. Saya langsung menutupi wajahku dengan jilbabku….”[HR. Al Bukhori dan Muslim]. Di dalam hadits ini menunjukan bahwa ketika turun ayat jilbab maka para wanita diperintahkan untuk menutup wajah-wajah mereka.

Hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, tatkala turun ayat :

“وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ”، فقالت: «أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا».

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya” maka ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha berkata: Maka mereka langsung mengambil sarung-sarung mereka dan menyobeknya dari bagian bawah lalu menjadikannya sebagai kerudung mereka” [HR. Al Bukhory].

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar: yaitu mereka menutup wajah-wajah mereka, ini adalah sebuah bentuk praktek amalan  dari para shohabiyah dalam mengamalkan ayat tersebut. Secara dzohir  bahwa ayat ini hanya memerintahkan wanita untuk menututup kepala dan dada, maka hal ini melazimkan akan menutup pula antara keduanya yaitu wajah. Hadits Asma bintu abu Bakr rodhiyallohu ‘anha berkata:

“كُنَّا نُغَطِّيَ وُجُوهَنَا مِنَ الرِّجَالِ”

“kami menutup wajah-wajah kami dihadapan laki-laki” [HR. Al Hakim, dishohikan oleh Syekh Al Albany].

Pendapat Kedua: Seluruh badan wanita adalah aurot, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Ini adalah pendapat sejumlah para ulama dan dirojihkan oleh Syekh Al Albany. Dalil-dalil mereka sebagai berikut: Firman Alloh ta’ala:

“إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا”

” kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” [QS. An Nur:31]. Mereka berdalil dengan tafsir Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma bahwa yang dikecualikan dalam ayat ini adalah wajah dan telapak tangan.

Menjawab pendalilan dari ayat ini: Tafsir ibnu Abbas, adalah atsar yang tidak sah darinya, dan kalau seandainya shohih maka tafsir ibnu Abbas bertentangan dengan tafsir dari shohabat yang lainnya seperti Ibnu Mas’ud yang mana beliau mentafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat adalah pakaian, karena melihat ke pakaian wanita tidak sampai melihat kebadannya atau aurotnya. Atau bisa jadi beliau mentafsirkan ayat tersebut sebelum turunnya ayat jilbab.Ayat jilbab diturunkan pada tahun kelima hijriyah. Dan juga kalau ditinjau secara bahasa maka pentafsiran dengan wajah dan telapak tangan adalah pentafsiran yang paling lemah karena di dalam ayat tersebut Alloh berfirman:

“إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا”

” kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” [QS. An Nur:31].

Alloh tidak berfirman dengan lafadz:

“إِلَّا مَا أَظَهَرَ مِنْهَا”

Yang artinya: ” kecuali apa yang ditampakan dari padanya” [QS. An Nur:31].

Kemudian lihatlah lafadz ayat setelahnya:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ

“dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka” [QS. An Nur:31].

Maka lafadz ini menguatkan bahwa yang dimaksud dengan perhiasan adalah perhiasan secara bathin (yang tidak tampak) yaitu wanita menampakan perhiasan bathin tersebut hanya kepada mahromya saja. Maka hal ini menunjukan bahwa yang bukan termasuk mahromnya hukumnya berbeda dengan hukum yang berlaku pada mahromnya.

Kemudian juga lafadz ayat setelahnya

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan” [QS. An Nur:31].

Yaitu agar tidak terjadi fitnah disebabkan suara yang keluar dari perhiasannya, padahal hal ini tidak menunjukan warna, sifat, umur dan bentuk wanita tersebut, yang seperti ini dilarang. Bagaimana dengan wanita yang menampakan wajahnya, yang dengannya bisa terlihat warna, sifat, umur dan bentuk wanita tersebut, maka ini adalah fitnah dan  fitnahnya lebih besar dari sekedar suara perhiasan seperti pada kakinya. Sehingga menampakan wajah lebih dilarang dengan sebab di atas.

Hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, berkata:

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ، دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ، فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: «يَا أَسْمَاءُ، إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا» وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ. رواه أبو داود.

“Bahwasannya Asma bintu Abu Bakr masuk menemui Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam dengan mengenakan pakaian yang tipis, maka Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam pun berpaling darinya, Beliau bersabda: “Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita jika telah baligh tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini – beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya” [HR. Abu Dawud]

Ini adalah hadits yang dho’if (lemah), karena di dalamnya ada 4 ‘ilal (penyakit yang menyebabkan lemahnya hadits): Di dalamnya ada perowi yang bernama Kholid bin Duroik, dia tidak bertemu dengan ‘Aisyah, sehingga hadits ini adalah hadits munqothi’ (hadits yang terputus sanadnya). Di dalamnya juga ada perowi yang bernama Qotadah, dia seorang mudallis, dan di dalam hadits ini dia meriwayatkan dengan sighoh (bentuk) periwayatan (عن) sehingga dengan ini menjadikan periwayatannya menjadi lemah. Di dalamnya juga ada perowi yang bernama Sa’id bin Basyir, dia meriwayatkan hadits ini dari Qotadah, sedangkan periwayatannya dari Qotadah terdapat kelemahan. Di dalamnya pula ada perowi yang bernama Al Walid bin Muslim, dia seorang mudallis, di dalam hadits ini dia juga meriwayatkan dengan bentuk periwayatan (عن) sehingga dengan ini menjadikan periwayatannya menjadi lemah. Hadits ini memeliki jalan sanad yang lain yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Baihaqy dari hadits ‘Aisyah pula, namun hadits ini juga hadits yang lemah Karena di dalam sanadnya terdapat Ibnu Lahi’ah (perowi yang dho’if) dan juga seorang perowi lain yang lemah sekali periwayatannya. Dan hadits juga memeliki jalan sanad yang lain, namun di dalamnya Qotadah meriwayatkan hadits secara mursal, sedangkan mursalnya Qotadah termasuk mursal yang paling lemah sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Muqbil Rohimahulloh, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai penguat hadits.

Mereka juga berdalil dengan hadits Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata:

كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ، فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الْآخَرِ (رواه البخاري ومسلم وهذا لفظ مسلم)

“Al Fadhl bin ‘Abbas pernah membonceng Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam, kemudian datang seorang wanita dari Khats’am yang bertanya kepada beliau; dan Al Fadhl melihatnya kepadanya, dan wanita tersebut melihat kepadanya. Kemudian Rosululloh memalingkan wajah Al Fadhl kesisi yang lain [HR. Al Bukhory dan Muslim, ini adalah lafadz hadits Muslim]. Adapun lafadz Al Bukhory:

وَكَانَ الفَضْلُ رَجُلًا وَضِيئًا  ….. وَأَقْبَلَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ وَضِيئَةٌ

“Al Fadhl seorang lelaki yang tampan ….. dan datanglah seorang wanita yang cantik dari khats’am”

Dalam riwayat An Nasa’i:

وَكَانَتِ امْرَأَةً حَسْنَاءَ

“Dia adalah wanita yang cantik”

Dengan hadits ini mereka berdalil tentang bolehnya bagi wanita membuka wajahnya. Sisi pendalilan mereka adalah Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan wanita tersebut untuk menurunkan jilbanya untuk menutup mukanya sehingga Al Fadhl dapat melihat mukanya.

Jawaban dari hadits ini, sbb: Riwayat Al Imam Muslim tidak terdapat dalil bolehnya wanita membuka wajahnya, karena lafadznya:

فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ

“dan Al Fadhl melihatnya kepadanya, dan wanita tersebut pun melihat kepadanya” Al Fadhl melihat wanita tersebut tidaklah melazimkan kalau wanita tersebut dalam keadaan membuka wajahnya.

Adapun riwayat Al Imam Al Bukhory, maka sebagaimana yang telah dimaklumi apabila seorang wanita membuka matanya maka akan terlihat sedikit warna kulit wajahnya, sehingga terkadang terlihat elok wajahnya dari tatapannya. Dari sini menunjukan bahwa riwayat Al Bukhory tidak tampak dengan jelas bahwa wanita tersebut membuka wajahnya. Adapun riwayat An Nasa’i jelas menyelisihi riwayat Muslim, sebagaimana telah dimaklumi bahwa Al Imam Muslim paling perhatian dengan lafadz-lafadz hadits di dalam periwayatannya. Mungkin juga kita katakan bahwa barangkali Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam setelah itu memerintahkan wanita tersebut untuk menutup mukanya atau wanita tersebut belum mengetahui hukum jilbab, sehingga Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam tidak segera memerintahkan dia sampai menjawab pertanyaannya terlebih dahulu, kemudian mengkabarkannya tentang hukum jilbab. Tidaklah kita mengakatakan bahwa hadits ini terjadi sebelum turunnya ayat jilbab, karena syariat haji turun pada tahun kesepuluh hiriyah sedangkan ayat jilbab turun pada tahun kelima hijriyah.

Hadits Jabir rodhiyallohu ‘anhuma:

ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ، فَقَالَ: «تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ»، فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ, فَقَالَتْ: لِمَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ….. الحديث

“Setelah itu, beliau berlalu hingga sampai di tempat kaum wanita. Beliau pun memberikan nasehat dan peringantan kepada mereka. Beliau bersabda: “Bersedekahlah kalian, karena kebanyakan kalian akan menjadi bahan bakar neraka jahannam.” Maka berdirilah seorang wnita terbaik di antara mereka denga wajah pucat kehitaman seraya bertanya: kenapa ya Rosululloh? ……”[HR. Muslim].

Jawaban dari hadits ini adalah: Lafadz (مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ) adalah lafadz yang menyelesihi kebanyakan periwayatan para perowi yang tsiqoh, mereka meriwayatkan dengan lafadz (مِنْ سَفَلَةِ النِّسَاءِ) artinya wanita yang rendah. Dari lafadz ini (مِنْ سَفَلَةِ النِّسَاءِ) menunjukan suatu kemungkinan bahwa wanita tersebut adalah seorang hamba sahaya (budak) bukan wanita yang merdeka, karena adanya warna hitam yang ada diwajahnya ini adalah alamat keumuman dari warna kulit para budak.

Jika demikian maka sesungguhnya budak perempuan tidaklah diwajibkan atas mereka untuk menutup wajah-wajah mereka selama tidak mengundang fitnah, berbeda dengan para wanita yang merdeka, wajib bagi mereka menutupi wajahnya. Sebagaimana yang ditunjukan dalam hadits Anas rodhiyallohu ‘anhu berkata:

“فَقَالَ المُسْلِمُونَ: إِحْدَى أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِينَ، أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُهُ؟ قَالُوا: إِنْ حَجَبَهَا فَهِيَ إِحْدَى أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِينَ، وَإِنْ لَمْ يَحْجُبْهَا فَهِيَ مِمَّا مَلَكَتْ يَمِينُهُ. رواه البخاري

“Berkata para Shohabat: Ia adalah ummahatul mukminin ataukah hamba sahaya? Dan mereka pun berkata: Jika beliau menghijabinya maka dia termasuk ummahatul mukminin, dan bila tidak, maka ia adalah hamba sahaya…” [HR. Al Bukhory]. Jawaban yang lain, bahwa kejadian ini sebelum diturunkannya ayat hijab.

Mereka berdalil dengan hadits Subai’ah Al Aslamiyah rodhiyallohu ‘anha, bahwa Abu As Sanabil bin Ba’kak melihatnya dalam keadaan berdandan. HR. Al Bukhory dan Muslim.

Jawaban dari hadits ini: Kejadian Abu As Sanabil melihatnya, ini disaat ingin mengkhitbahnya (meminangnya). Melihat wajah wanita yang akan dinikahi adalah hal yang dibolehkan.

Hadits Fathimah bintu Qois, dimana Rosulullohu berkata kepadanya:

فَقَالَ: «لَا تَفْعَلِي، إِنَّ أُمَّ شَرِيكٍ امْرَأَةٌ كَثِيرَةُ الضِّيفَانِ، فَإِنِّي أَكْرَهُ أَنْ يَسْقُطَ عَنْكِ خِمَارُكِ أَوْ يَنْكَشِفَ الثَّوْبُ عَنْ سَاقَيْكِ، فَيَرَى الْقَوْمُ مِنْكِ بَعْضَ مَا تَكْرَهِينَ….. الحديث

“Jangan (kamu pindah kerumahnya), karena Ummu Syuraik adalah wanita yang banyak tamunya, aku tidak mau kerudungmu jatuh atau penutup betismu tersingkap lalu orang-orang melihat sebagian yang tidak kau suka…..” [HR. Muslim].

Jawaban dari hadits ini adalah bahwa kalimat “khimar” tidaklah cuma di pakai untuk sesuatu yang menutupi kepala saja, tetapi juga bermakna sesuatu yang menutupi aurot, dalil dalam hal ini adalah perkataan ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha:

” فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي”

“Aku tutupi wajahku dengan jilbabku” [HR. Al Bukhory dan Muslim].

KESIMPULAN; Melihat dari dalil-dalil dari kedua pendapat di atas, maka kita melihat dalil-dalil pendapat pertama tentang aurot wanita adalah seluruh tubuhnya, termasuk di dalamnya wajah dan kedua telapak tangannya lebih kuat dan lebih jelas pendalilannya daripada dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat kedua yang mengecualikan wajah dan telapak tangan. Sehingga kita simpulkan dari pembahasan ini, pendapat pertama adalah pendapat yang kuat dan terpilih.Wallohu a’lam. Semoga apa yang kami tuliskan disini memberikan banyak faedah yang berharga dan bermanfaat bagi kaum muslimin secara umum, dan bagi kaum muslimah secara khusus. Wallohu a’lam bishowab wal muwaffiq ilaihi.

CATATAN: Pembahasan ini kami nukil dari fawaid yang diajarkan oleh Syekhuna Abdurohman Al ‘Adeny hafidzohullohu ta’ala dalam pelajaran Syarh Ad Durory karya Al Imam Asy Syaukany rohimahulloh.

Ditulis oleh Abu ‘Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawy 

_di darul Hadits Al Fiyusy_Harasahallah

Sumber : Batasan Aurat Wanita

Artikel Lainnya

Tentang Kami

🏠 Muslimstore.id adalah marketplace islami yang menjual berbagaimacam produk perlengkapan kaum muslimin, seperti buku-buku dan majalah islami, bahasa arab, pakaian muslim, jubah dan gamis, kurma, aneka herbal, parfum non alkohol dll.

📍 Semua barang yang dijual di website ini adalah milik masing-masing pedagang dari daerahnya masing-masing jadi buka tanggung jawab pemilik website, akan tetapi para pedagang di website ini insya Allah orang-orang yang amanah.


Semoga anda mendapatkan produk yang anda cari di sini, semoga Allah membarokahi muamalah kita semuanya. Aamiin.., dan apabila ada pertanyaan jangan sungkan untuk menghubungi kami.

Hubungi Kami

Aceh Barat, Aceh Aceh Barat Daya, Aceh Aceh Besar, Aceh Aceh Jaya, Aceh Aceh Selatan, Aceh Aceh Singkil, Aceh Aceh Tamiang, Aceh Aceh Tengah, Aceh Aceh Tenggara, Aceh Aceh Timur, Aceh Aceh Utara, Aceh Bener Meriah, Aceh Bireuen, Aceh Gayo Lues, Aceh Kota Banda Aceh, Aceh Kota Langsa, Aceh Kota Lhokseumawe, Aceh Kota Sabang, Aceh Kota Subulussalam, Aceh Nagan Raya, Aceh Pidie, Aceh Pidie Jaya, Aceh Simeulue, Aceh Badung, Bali Bangli, Bali Buleleng, Bali Gianyar, Bali Jembrana, Bali Karangasem, Bali Klungkung, Bali Kota Denpasar, Bali Tabanan, Bali Kota Cilegon, Banten Kota Serang, Banten Kota Tangerang, Banten Kota Tangerang Selatan, Banten Lebak, Banten Pandeglang, Banten Serang, Banten Tangerang, Banten Bengkulu Selatan, Bengkulu Bengkulu Tengah, Bengkulu Bengkulu Utara, Bengkulu Kaur, Bengkulu Kepahiang, Bengkulu Kota Bengkulu, Bengkulu Lebong, Bengkulu Mukomuko, Bengkulu Rejang Lebong, Bengkulu Seluma, Bengkulu Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Jakarta Barat, Dki Jakarta Jakarta Pusat, Dki Jakarta Jakarta Selatan, Dki Jakarta Jakarta Timur, Dki Jakarta Jakarta Utara, Dki Jakarta Kepulauan Seribu, Dki Jakarta Boalemo, Gorontalo Bone Bolango, Gorontalo Gorontalo, Gorontalo Gorontalo Utara, Gorontalo Kota Gorontalo, Gorontalo Pahuwato, Gorontalo Batanghari, Jambi Bungo, Jambi Kerinci, Jambi Kota Jambi, Jambi Kota Sungai Penuh, Jambi Merangin, Jambi Muaro Jambi, Jambi Sarolangun, Jambi Tanjung Jabung Barat, Jambi Tanjung Jabung Timur, Jambi Tebo, Jambi Bandung, Jawa Barat Bandung Barat, Jawa Barat Bekasi, Jawa Barat Bogor, Jawa Barat Ciamis, Jawa Barat Cianjur, Jawa Barat Cirebon, Jawa Barat Garut, Jawa Barat Indramayu, Jawa Barat Karawang, Jawa Barat Kota Bandung, Jawa Barat Kota Banjar, Jawa Barat Kota Bekasi, Jawa Barat Kota Bogor, Jawa Barat Kota Cimahi, Jawa Barat Kota Cirebon, Jawa Barat Kota Depok, Jawa Barat Kota Sukabumi, Jawa Barat Kota Tasikmalaya, Jawa Barat Kuningan, Jawa Barat Majalengka, Jawa Barat Purwakarta, Jawa Barat Subang, Jawa Barat Sukabumi, Jawa Barat Sumedang, Jawa Barat Tasikmalaya, Jawa Barat Banjarnegara, Jawa Tengah Banyumas, Jawa Tengah Batang, Jawa Tengah Blora, Jawa Tengah Boyolali, Jawa Tengah Brebes, Jawa Tengah Cilacap, Jawa Tengah Demak, Jawa Tengah Grobogan, Jawa Tengah Jepara, Jawa Tengah Karanganyar, Jawa Tengah Kebumen, Jawa Tengah Kendal, Jawa Tengah Klaten, Jawa Tengah Kota Magelang, Jawa Tengah Kota Pekalongan, Jawa Tengah Kota Salatiga, Jawa Tengah Kota Semarang, Jawa Tengah Kota Surakarta, Jawa Tengah Kota Tegal, Jawa Tengah Kudus, Jawa Tengah Magelang, Jawa Tengah Pati, Jawa Tengah Pekalongan, Jawa Tengah Pemalang, Jawa Tengah Purbalingga, Jawa Tengah Purworejo, Jawa Tengah Rembang, Jawa Tengah Semarang, Jawa Tengah Sragen, Jawa Tengah Sukoharjo, Jawa Tengah Tegal, Jawa Tengah Temanggung, Jawa Tengah Wonogiri, Jawa Tengah Wonosobo, Jawa Tengah Bangkalan, Jawa Timur Banyuwangi, Jawa Timur Blitar, Jawa Timur Bojonegoro, Jawa Timur Bondowoso, Jawa Timur Gresik, Jawa Timur Jember, Jawa Timur Jombang, Jawa Timur Kediri, Jawa Timur Kota Batu, Jawa Timur Kota Blitar, Jawa Timur Kota Kediri, Jawa Timur Kota Madiun, Jawa Timur Kota Malang, Jawa Timur Kota Mojokerto, Jawa Timur Kota Pasuruan, Jawa Timur Kota Probolinggo, Jawa Timur Kota Surabaya, Jawa Timur Lamongan, Jawa Timur Lumajang, Jawa Timur Madiun, Jawa Timur Magetan, Jawa Timur Malang, Jawa Timur Mojokerto, Jawa Timur Nganjuk, Jawa Timur Ngawi, Jawa Timur Pacitan, Jawa Timur Pamekasan, Jawa Timur Pasuruan, Jawa Timur Ponorogo, Jawa Timur Probolinggo, Jawa Timur Sampang, Jawa Timur Sidoarjo, Jawa Timur Situbondo, Jawa Timur Sumenep, Jawa Timur Trenggalek, Jawa Timur Tuban, Jawa Timur Tulungagung, Jawa Timur Bengkayang, Kalimantan Barat Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Kayong Utara, Kalimantan Barat Ketapang, Kalimantan Barat Kota Pontianak, Kalimantan Barat Kota Singkawang, Kalimantan Barat Kubu Raya, Kalimantan Barat Landak, Kalimantan Barat Melawi, Kalimantan Barat Pontianak, Kalimantan Barat Sambas, Kalimantan Barat Sanggau, Kalimantan Barat Sekadau, Kalimantan Barat Sintang, Kalimantan Barat Balangan, Kalimantan Selatan Banjar, Kalimantan Selatan Barito Kuala, Kalimantan Selatan Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan Kotabaru, Kalimantan Selatan Tabalong, Kalimantan Selatan Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan Tanah Laut, Kalimantan Selatan Tapin, Kalimantan Selatan Barito Selatan, Kalimantan Tengah Barito Timur, Kalimantan Tengah Barito Utara, Kalimantan Tengah Gunung Mas, Kalimantan Tengah Kapuas, Kalimantan Tengah Katingan, Kalimantan Tengah Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah Lamandau, Kalimantan Tengah Murung Raya, Kalimantan Tengah Pulang Pisau, Kalimantan Tengah Seruyan, Kalimantan Tengah Sukamara, Kalimantan Tengah Berau, Kalimantan Timur Bulungan, Kalimantan Timur Kota Balikpapan, Kalimantan Timur Kota Bontang, Kalimantan Timur Kota Samarinda, Kalimantan Timur Kota Tarakan, Kalimantan Timur Kutai Barat, Kalimantan Timur Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur Kutai Timur, Kalimantan Timur Malinau, Kalimantan Timur Nunukan, Kalimantan Timur Paser, Kalimantan Timur Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur Tana Tidung, Kalimantan Timur Bangka, Kepulauan Bangka Belitung Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung Belitung, Kepulauan Bangka Belitung Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung Bintan, Kepulauan Riau Karimun, Kepulauan Riau Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau Kota Batam, Kepulauan Riau Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau Lingga, Kepulauan Riau Natuna, Kepulauan Riau Kota Bandar Lampung, Lampung Kota Metro, Lampung Lampung Barat, Lampung Lampung Selatan, Lampung Lampung Tengah, Lampung Lampung Timur, Lampung Lampung Utara, Lampung Mesuji, Lampung Pesawaran, Lampung Pringsewu, Lampung Tanggamus, Lampung Tulang Bawang, Lampung Tulang Bawang Barat, Lampung Way Kanan, Lampung Buru, Maluku Buru Selatan, Maluku Kepulauan Aru, Maluku Kota Ambon, Maluku Kota Tual, Maluku Maluku Barat Daya, Maluku Maluku Tengah, Maluku Maluku Tenggara, Maluku Maluku Tenggara Barat, Maluku Seram Bagian Barat, Maluku Seram Bagian Timur, Maluku Halmahera Barat, Maluku Utara Halmahera Selatan, Maluku Utara Halmahera Tengah, Maluku Utara Halmahera Timur, Maluku Utara Halmahera Utara, Maluku Utara Kepulauan Sula, Maluku Utara Kota Ternate, Maluku Utara Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara Pulau Morotai, Maluku Utara Bima, Nusa Tenggara Barat Dompu, Nusa Tenggara Barat Kota Bima, Nusa Tenggara Barat Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat Sumbawa, Nusa Tenggara Barat Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat Alor, Nusa Tenggara Timur Belu, Nusa Tenggara Timur Ende, Nusa Tenggara Timur Flores Timur, Nusa Tenggara Timur Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur Kupang, Nusa Tenggara Timur Lembata, Nusa Tenggara Timur Manggarai, Nusa Tenggara Timur Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur Nagekeo, Nusa Tenggara Timur Ngada, Nusa Tenggara Timur Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur Sikka, Nusa Tenggara Timur Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur Asmat, Papua Biak Numfor, Papua Boven Digoel, Papua Deiyai, Papua Dogiyai, Papua Intan Jaya, Papua Jayapura, Papua Jayawijaya, Papua Keerom, Papua Kepulauan Yapen, Papua Kota Jayapura, Papua Lanny Jaya, Papua Mamberamo Raya, Papua Mamberamo Tengah, Papua Mappi, Papua Merauke, Papua Mimika, Papua Nabire, Papua Nduga, Papua Paniai, Papua Pegunungan Bintang, Papua Puncak, Papua Puncak Jaya, Papua Sarmi, Papua Supiori, Papua Tolikara, Papua Waropen, Papua Yahukimo, Papua Yalimo, Papua Fakfak, Papua Barat Kaimana, Papua Barat Kota Sorong, Papua Barat Manokwari, Papua Barat Maybrat, Papua Barat Raja Ampat, Papua Barat Sorong, Papua Barat Sorong Selatan, Papua Barat Tambrauw, Papua Barat Teluk Bintuni, Papua Barat Teluk Wondama, Papua Barat Bengkalis, Riau Indragiri Hilir, Riau Indragiri Hulu, Riau Kampar, Riau Kepulauan Meranti, Riau Kota Dumai, Riau Kota Pekanbaru, Riau Kuantan Singingi, Riau Pelalawan, Riau Rokan Hilir, Riau Rokan Hulu, Riau Siak, Riau Majene, Sulawesi Barat Mamasa, Sulawesi Barat Mamuju, Sulawesi Barat Mamuju Utara, Sulawesi Barat Polewali Mandar, Sulawesi Barat Bantaeng, Sulawesi Selatan Barru, Sulawesi Selatan Bone, Sulawesi Selatan Bulukumba, Sulawesi Selatan Enrekang, Sulawesi Selatan Gowa, Sulawesi Selatan Jeneponto, Sulawesi Selatan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan Kota Makassar, Sulawesi Selatan Kota Palopo, Sulawesi Selatan Kota Pare Pare, Sulawesi Selatan Luwu, Sulawesi Selatan Luwu Timur, Sulawesi Selatan Luwu Utara, Sulawesi Selatan Maros, Sulawesi Selatan Pangkajene Dan Kepulauan, Sulawesi Selatan Pinrang, Sulawesi Selatan Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan Sinjai, Sulawesi Selatan Soppeng, Sulawesi Selatan Takalar, Sulawesi Selatan Tana Toraja, Sulawesi Selatan Toraja Utara, Sulawesi Selatan Wajo, Sulawesi Selatan Banggai, Sulawesi Tengah Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah Buol, Sulawesi Tengah Donggala, Sulawesi Tengah Kota Palu, Sulawesi Tengah Morowali, Sulawesi Tengah Parigi Moutong, Sulawesi Tengah Poso, Sulawesi Tengah Sigi, Sulawesi Tengah Tolitoli, Sulawesi Tengah Tojo Una-una, Sulawesi Tengah Bombana, Sulawesi Tenggara Buton, Sulawesi Tenggara Buton Utara, Sulawesi Tenggara Kolaka, Sulawesi Tenggara Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara Konawe, Sulawesi Tenggara Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara Konawe Utara, Sulawesi Tenggara Kota Bau Bau, Sulawesi Tenggara Kota Kendari, Sulawesi Tenggara Muna, Sulawesi Tenggara Wakatobi, Sulawesi Tenggara Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara Kota Bitung, Sulawesi Utara Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara Kota Manado, Sulawesi Utara Kota Tomohon, Sulawesi Utara Minahasa, Sulawesi Utara Minahasa Selatan, Sulawesi Utara Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara Minahasa Utara, Sulawesi Utara Kep. Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara Agam, Sumatera Barat Dharmasraya, Sumatera Barat Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat Kota Padang, Sumatera Barat Kota Padang Panjang, Sumatera Barat Kota Pariaman, Sumatera Barat Kota Payakumbuh, Sumatera Barat Kota Sawahlunto, Sumatera Barat Kota Solok, Sumatera Barat Lima Puluh Kota, Sumatera Barat Padang Pariaman, Sumatera Barat Pasaman, Sumatera Barat Pasaman Barat, Sumatera Barat Pesisir Selatan, Sumatera Barat Sijunjung, Sumatera Barat Solok, Sumatera Barat Solok Selatan, Sumatera Barat Tanah Datar, Sumatera Barat Banyuasin, Sumatera Selatan Empat Lawang, Sumatera Selatan Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan Kota Palembang, Sumatera Selatan Kota Prabumulih, Sumatera Selatan Lahat, Sumatera Selatan Muara Enim, Sumatera Selatan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan Musi Rawas, Sumatera Selatan Ogan Ilir, Sumatera Selatan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan Asahan, Sumatera Utara Batu Bara, Sumatera Utara Dairi, Sumatera Utara Deli Serdang, Sumatera Utara Humbang Hasundutan, Sumatera Utara Karo, Sumatera Utara Kota Binjai, Sumatera Utara Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara Kota Medan, Sumatera Utara Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara Kota Sibolga, Sumatera Utara Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara Labuhanbatu, Sumatera Utara Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara Langkat, Sumatera Utara Mandailing Natal, Sumatera Utara Nias, Sumatera Utara Nias Barat, Sumatera Utara Nias Selatan, Sumatera Utara Nias Utara, Sumatera Utara Padang Lawas, Sumatera Utara Padang Lawas Utara, Sumatera Utara Pakpak Bharat, Sumatera Utara Samosir, Sumatera Utara Serdang Bedagai, Sumatera Utara Simalungun, Sumatera Utara Tapanuli Selatan, Sumatera Utara Tapanuli Tengah, Sumatera Utara Tapanuli Utara, Sumatera Utara Toba Samosir, Sumatera Utara